Pengikut

Selasa, 29 November 2011

Musibah ambruknya jembatan tenggarong

Oleh : Jakob Siringoringo. Musibah ambruknya Jembatan Kartanegara di Sungai Mahakam
Tenggarong, Kalimantan Timur menelan korban tewas belasan orang, 33 hilang, dan 40 luka-luka menurut pendataan terkini. Belum lagi daftar korban hilang yang belum teridentifikasi.
Di tengah hiruk-pikuk persoalan yang kita hadapi, negara harus berkabung sejenak. Jika menimbang sedikit kegembiraan atas prestasi juara umum di Sea Games 22 November lalu, kehadiran musibah baru ini menimbang kemudian menjadi keprihatinan bersama. Di jembatan ini warga masyarakat lalu lalang menambah kantung perekonomian Kalimantan dan negara. Artinya aktivitas penyeberangan di jembatan ini seharusnya memberi penghidupan dan memang selama kurang lebih 10 tahun ini telah menyumbang, namun pula bukan menjadi pengancam nyawa.

Jembatan kabel gantung berbiaya Rp 150 miliar itu harus lenyap dalam kurun waktu 30 detik. Inilah yang masih menyimpan tanya atas ambruknya Jembatan Mahakam. Bagaimana merekonstruksi ulang proses pembangunan jembatan ini sebaiknya diserahkan pada ahlinya. Dalam tulisan ini hanya bisa menggambarkan bagaimana anehnya jembatan berbiaya sangat besar ini runtuh hanya dalam tempo yang sangat singkat, setengah menit lebih singkat dari berbicara.

Konstruksi

Kerugian akibat ambruknya jembatan dengan panjang 710 meter ini tidak saja hanya secara material. Lebih mengenaskan adalah para penyeberang, baik yang tengah berkendaraan roda dua maupun mobil harus meregang nyawa menjadi korban. Nyawa hilang di tengah megahnya jembatan dengan pemandangan arus sungai dari bawah yang membayar mahalnya perjalanan menempuh daratan ‘dua’ Tenggarong.

Bangunan berbiaya 150 miliar itu kini menjadi saksi hidup perjalanan pembangunan yang terus menjadi sorotan publik. Berbicara dari segi ilmiah, jembatan runtuh tidak akibat adanya penurunan tanah ataupun goncangan bumi yang jika disimpulkan menjadi tragedi alam. Tidak. Maka perlu sekali menimbang konstruksi bangunan secara tepat bukan dihasut intervensi sebab bangunan bukanlah bangunan biasa. Bukan bangunan biasa, jembatan Mahakam ini memang tergolong bangunan yang memerlukan ketelitian dan daya ketahanan luar biasa mengingat bebannya yang menggantung di atas sungai dan harus menjamin keselamatan ekstrem.

Jika daya tahan tidak berimbang dengan penyangga, maka jembatan tidak layak. Hal itu dapat dilihat dengan jelas pada Jembatan Ampera di Palembang salah satu contoh konkret. Artinya, pembangunan jembatan gantung seperti ini tidak mengandung kesan main-main. Jadi, jembatan itu tidak hanya atas nama keindahan apalagi ekonomi, tetapi juga kemanusiaan. Pertimbangan matang akan sisi kemanusiaan dari segi keselamatan menjadi yang utama dan harus dikedepankan sebelum opsi-opsi lainnya mendukung.

Aneh

Mempertanyakan konstruksi bangunan adalah hal yang paling mungkin untuk diteliti saat ini. Pertimbangannya jelas dengan alasan logika ilmiah yang tentu berhubungan secara fisika, dapat dikalkulasikan. Berangkat dari kalkulasi sederhana yang terukur lewat perhitungan memungkinkan kita membuka mata. Artinya, dengan labih jelas dapat umum ketahui bagaimana hancurnya sebuah bangunan mewah adalah karena sesuatu yang terjadi di alam pikiran. Nyata dan logis untuk dikonsumsi publik.

Penelitian akan mungkin menjawab peristiwa naas sekaligus aneh di seantero dunia itu. Di mana umur yang masih muda tidak menjamin kepercayaan pengguna jalan. Buktinya masih dalam kurun waktu 10 tahun jembatan itu sendiri menelan korbannya dan memutus hubungan antardaratan yang sangat sulit di wilayah Kalimantan, untuk saat ini.

Sedikit melantur pada peristiwa penting lain baru-baru ini, penulis teringat pada kasus Mohammad Nazaruddin (mantan Bendahara Partai Demokrat). Kasus korupsi yang didakwakan pada Nazaruddin terkait dengan korupsi pembangunan di Palembang Sumatera Selatan, yaitu terkait Sea Games 2011. Dana yang diperuntukkan penuh untuk membangun keperluan olahraga termegah se-Asia Tenggara itu ternyata lebih dulu ditelap oleh salah satunya Nazaruddin.

Dengan berita yang memilukan sekaligus memalukan itu, penulis hampir tak percaya seluruh konstruksi bangunan di Sea Games 2011 Palembang itu bertahan atau layak digunakan para atlet hingga penghujung pesta dua tahunan itu.

Masih segar dalam ingatan kolektif kita bahwa beberapa hari sebelum hari H, pembangunan ketika itu belum sepenuhnya selesai. Dan jika pun selesai, sejujurnya belum layak dipergunakan. Namun, karena perhelatan akbar ini sudah dan tidak mungkin ditunda lagi, seluruh bangunan yang diperlukan untuk masing-masing perlombaan pun akhirnya dilayak pakaikan.

Kembali ke Kalimantan Timur, jembatan berbiaya tidak tanggung-tanggung itu kini menyimpan misteri dan harus diungkapkan sesegera mungkin. Jangan lagi membuat permasalahan kian panjang dengan berlarut-larutnya penyelesaian. Kejadian aneh ini jelas mengusik siapa saja yang masih memiliki akal dan nalar. Sepuluh tahun usia sebuah bangunan megah tidaklah waktu yang ideal. Mungkin-mungkin di dalamnya ada yang tidak beres. Dengan demikian, peristiwa ini bukan lagi merupakan sebuah musibah, melainkan menjadi masalah, tentu di dalamnya bergulung-gulung kasus berbelit.

Atau ini akan menjadi pembuka bangunan-bangunan ke depan untuk diantisipasi? Di mana 30 detik yang mematikan menjawab kualitas Jembatan Mahakam. Sungguh keanehan yang mendunia. Sebab perhitungannya jika memperhatikan waktu penyebab keruntuhan, hampir sama dengan ledakan bom dahsyat.

Penyebab sementara dari ambruknya jembatan ini memang masih sulit dibuktikan. Namun, inilah yang menjadi pertanyaan dalam beberapa hari ke depan guna memastikan apakah berkaitan dengan sesuatu yang tidak didugan sama sekali.

Sementara itu, pemberitaan media bahwa penyebab pasti dari keruntuhan ini akibat terjadi kelalaian. Runtuhnya Jembatan Kartanegara di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Sabtu (26/11) sekitar pukul 16.15 Wita, dipastikan akibat kelalaian. (Kompas 28/11/2011)

Sembari mendapatkan kabar yang lebih valid berdasarkan penelitian tentu kita berharap bahwa secepatnya pengungkapan seputar masalah aneh ini dapat dipecahkan.

Peristiwa ini harus dijadikan pelajaran ke depan mengingat pembangunan sejenis jembatan ini sangat memberi dampak bagi perkembangan perekonomian daerah setempat.

Menyikapi keganjilan ini, sejatinya pemerintah dengan tegas dan tanggap segera menyelidiki penyebab masalah ini bisa terjadi. Akhirnya keanehan ambruknya jembatan gantung terpanjang di Indonesia dan disebut sebagai Golden Gate di Kalimantan itu dapat dipahami bersama.

Memang sejauh ini, presiden dalam hal ini Susilo Bambang Yudoyono sendiri langsung menggelar rapat dan menginstruksikan pada Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto agar meninjau lokasi.

Selain itu, Kapolri Timur Pradopo juga menginstruksikan segera mengutus Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Sutarman untuk menyelidiki runtuhnya jembatan itu.

Namun tidak hanya sampai di situ, lebih penting diharapkan adalah proses dan hasil yang dapat mengungkap penyebab 30 detik ambruknya Jembatan Kartanegara. Semoga.

Penulis adalah aktivis KDAS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar